Jumat, 03 Januari 2014

Solusi Menjadi Penyabar


Lebih bersabar

 Tidaklah kedua telingamu mendengar kalimat petaka melainkan pada indera pendengaran satunya harus a Solusi menjadi Penyabar
Tidaklah kedua telingamu mendengar kalimat petaka melainkan pada indera pendengaran satunya harus ada kalimat sabar, kalau seandainya hal itu tidak kau lakukan maka dilema atau problem tersebut akan menjadi semakin membesar, yang pada nantinya menciptakan patah semangat dan berujung enggan untuk menyelesaikanya. Namun Allah Azza wa jalla Maha Penyayang dalam hal ini kepada para hambaNya, dimana Dia telah menundukan bagi mereka cara jitu untuk mengatasi dilema yaitu dengan kesabaran.

Dalam agama, sabar memiliki kedudukan yang sangat urgen, bahkan ia merupakan kepingan dari agama itu sendiri, di mana sabar ialah daerah berteduhnya bagi para penyabar, dan merupakan harta simpanan dari simpanan-simpanan di surga. Yang mana Allah Ta'ala telah menjanjikan bagi orang-orang yang sabar dengan pahala yang sangat besar, hal itu menyerupai yang di jelaskan dalam firmanNya:



"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas". QS az-Zumar: 10.

Berkata Imam al-Auz'ai: "Balasan bagi orang yang sabar tidak lagi ditimbang, maupun diukur namun eksklusif di ambilkan tanpa ada batasannya".

Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:



"Sungguh sangat menakjubkan perkaranya seorang mukmin itu, semua perkaranya baik, dan tidak ada pada seorang pun melainkan hanya seorang mukmin, bila dirinya menerima reziki dia bersyukur, maka itu baik baginya, bila dirinya di timpa petaka kemudian bersabar itu juga baik baginya". HR Muslim.

Sikap sabar sendiri memiliki makna yang dalam yaitu berhenti bersama petaka dengan cara menyikapi yang baik. Dan jangan dikira kalau petaka itu hanya pada perkara-perkara yang besar saja menyerupai ajal atau perceraian, misalkan, akan tetapi setiap kasus yang kau mencicipi sedih dikala kehilangan darinya maka itulah yang di namakan musibah. Pernah suatu hari tali sendalnya Umar bin Khatab semoga Allah meridhoinya putus maka dia pun mengucapkan kalimat istirjaa' kemudian mengatakan: "Setiap insiden jelek yang menimpamu maka itu ialah musibah".

Dan bila seorang muslim tidak sabar dikala tertimpa sebuah musibah, tidak pula mengharap pahala dari alasannya petaka tersebut, maka hilang sudah pahala dan ganjaran dari Allah Ta'ala pada hari-hari petaka tersebut. Dan kedudukan yang paling tinggi di antara orang-orang yang sabar yaitu kedudukan orang yang ridho dengan qodho dan qadr Allah Subhanahu wa ta'ala, tunduk dengan takdir Allah Ta'ala, Allah berfirman:



"Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.". QS at-Taubah: 51.

Imam Ibnu Rajab mengatakan: "Adapun perbedaan antara ridho dengan sabar yaitu kalau sabar ialah menutupi jiwa dari rasa murka dengan menahan rasa sakit yang ada sambil berharap biar segera hilang rasa sakit tersebut, dan mencegah anggota tubuh jangan hingga melaksanakan perbuatan yang tidak terpuji oleh alasannya marah. Sedangkan ridho ialah mendapatkan dan ikhlas dengan ketentuan Allah Ta'ala, serta melupakan angan-angan (yang muncul) berharap biar rasa sakit yang sedang di rasakannya tersebut segera hilang walaupun terdapati rasa sakitnya, namun dengan adanya perilaku ridho, akan menimbulkan lebih ringan (beban yang ada dalam badan) dan memberi kabar besar hati bagi hati dengan kenyakinan dan pemahaman yang sempurna, maka bila perilaku ridho ini berpengaruh menahan rasa sakit yang sedang di rasakan maka akan hilang dengan sendiri rasa sakit tersebut".

Ibnul Jauzi mengatakan: "Kalau sekiranya dunia itu bukan tempatnya ujian maka tidak ada yang namanya penyakit, cemas, bimbang dan perasaan suram, kehidupan tidak terasa sempit bagi para nabi dan orang-orang pilihan. Nabi Adam tidak akan diuji hingga keluar dari dunia, Nabi Nuh menangis dalam waktu yang sangat panjang tiga ratus tahun (lamanya), Nabi Ibrohim di lempar kedalam api dan diuji untuk menyembelih anaknya yang ia cintai, Nabi Ya'qub menangis lantaran kehilangan anaknya Yusuf hingga hilang penglihatanya, Nabi Musa dikejar Fira'un, bukan itu saja, namun kaumnya pun menerima ujian dari kezaliman Fir'aun, Nabi Isa bin Maryam tidak ada daerah untuk berlindung baginya melainkan hidup dalam kesengsaraan. Dan Nabi kita Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam sabar dalam kehidupan yang serba kekurangan, terbunuhnya Hamzah bin Abdul Mutholib pamannya yang merupakan orang yang paling dia cintai dari kalangan keluarganya, begitu juga ditinggal lari oleh kaumnya, (pada pertama kalinya muncul dakwah beliau), mereka enggan untuk mendapatkan dakwahnya. Dan selain mereka dari kalangan para Nabi dan para wali yang sangat panjang kalau mau di sebutkan semuanya, kalau benar sekiranya dunia ini di ciptakan untuk bersenang-senang dan mencari kelezatanya, tentu tidak akan mungkin bagi orang yang beriman menerima kebahagian darinya. Sunguh benar apa yang di katakan oleh seorang panyair:
Dunia tempatnya kesedihan, kenapa engkau menginginkanya *** Tidak akan pernah dunia lepas dari ujian dan cobaan.

Dan sabar yang di maksud di sini, bukan hanya sekedar bisa menahan petaka yang menimpanya dan meneguk rasa sakit yang di alaminya serta kesedihan yang terasa menyekat di kerongkonganya, namun sabar di sini ialah sabar yang bisa mencari solusi permasalahannya dan mampu menata kembali perkaranya, adakalanya sabar di dalam mencari solusinya dengan dakwah kepada Allah Azza wa jalla, adakalanya sabar di dalam mencari solusinya dengan mendidik dan bergaul dengan cara yang indah, adakalanya sabar di dalam mencari solusinya dengan kembali menikah dan istiqomah bersamanya, demikian seterusnya setiap dilema di butuhkan cara penyelesaian dan kesabaran dalam mencari solusinya

Sumber https://anekakabar7.blogspot.com/